Yang merasa terbantu dengan blog ini, atau ada saran/kritik, atau cuma mau komen, mohon komen ya...

Selasa, 06 November 2012

Rekayasa Bahan: Piezoelektrik dan Piezoelektrik PVDF (Polyvinylidene Flouride)

Piezoelektrik adalah tumpukan muatan dalam materi padat (kristal atau keramik) tertentu dalam menanggapi regangan mekanik yang dikenakan. Kata piezoelektrik berasal dari bahasa yunani piezo atau piezein yang berarti memeras atau tekan, dan elektrik yang berarti listrik atau electron. Kata yang piezoelektrik berarti listrik yang dihasilkan dari tekanan. Sumber muatan listrik piezoelektrik merupakan akibat dari efek piezoelektrik.

Gambar 1. Piezoelektrik

Tekanan yang mengenai piezoelektrik kemudian menimbulkan medan listrik. Pada saat medan listrik melewati material, molekul yang terpolarisasi akan menyesuaikan dengan medan listrik, dihasilkan dipol yang terinduksi dengan molekul atau struktur kristal materi. Penyesuaian molekul akan mengakibatkan material berubah dimensi. Fenomena tersebut dikenal dengan electrostriction (efek piezoelektrik). Piezoelektrisitas juga dipengaruhi oleh arah dan dimensi, seperti yang ditunjukan oleh gambar 2 berikut.

Gambar 2. Pengaruh Arah dan Dimensi Piezoelektrik

Bahan piezoelektrik dapat terbentuk secara alami (tersedia di alam) atau buatan manusia. Bahan piezoelektrik alami diantaranya adalah kuarsa (SiO2), berlinite (AlPO4), gula tebu, garam Rochelle, dan enamel. Sedangkan bahan piezoelektrik buatan diantaranya adalah gallium ortofosfat (GaPO4) dan langasite (La3Ga5SiO14).

 Gambar 3. Efek Piezoelektrik Pada Kristal Kuarsa

A. Bahan Piezoelektrik dan PVDF
Bahan piezoelektrik dapat mengubah deformasi mekanik menjadi potensial listrik dan sebaliknya. Timbulnya potensial listrik ini diakibatkan terjadinya pengkutuban muatan bahan piezoelektrik ketika dikenai tekanan hingga terdeformasi. Penggunaan bahan piezoelektrik sebagai komponen yang dapat mengubah getaran ultrasonik ke atau dari getaran listrik semakin berperan dalam perkembangan industry mekatronika, optik, dan telekomunikasi. Dari berbagai bahan polimer piezoelektrik, PolyVinylidene Flouride atau PVDF merupakan bahan yang banyak menarik perhatian untuk dikaji karena konstanta piezoelektrik dan elastisitasnya tinggi. Keunggulan lain dari bahan tersebut adalah tahan terhadap kejutan mekanik karena kelenturannya, sehingga mudah dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran, ringan karena berat jenisnya rendah dan mempunyai impedansi akustik yang rendah.

Gambar PVDF Piezoelektrik

B. Sifat PVDF
Polyvinylidene Fluoride (PVDF) adalah fluoropolimer termolastik dan non reaktif. PVDF digunakan untuk aplikasi polimer yang membutuhkan kemurnian tinggi, kekuatan, dan ketahanan terhadap asam, basa, dan panas, serta melepaskan asap yang rendah ketika pembakaran. Dibandingkan dengan fluoropolimer lain, PVDF lebih mudah meleleh karena melting pointnya relatif rendah, yaitu 177°C. Selain itu, PVDF mempunyai densitas rendah sebesar 1,78 dan juga lebih murah.


Berikut adalah sifat bahan PVDF sebagai bahan piezoelektrik film:



C. Struktur PVDF
PVDF adalah polimer kristalin (CH2 – CF2)n dan mempunyai 3 bentuk fasa kristal, yaitu fasa α, fasa β, dan fasa γ. Efek piezoelektrisitas PVDF berkaitan erat dengan bentuk fasa kristal tersebut. Kenaikan konstanta piezoelektrik sebanding dengan kenaikan kandungan fasa β dalam bahan karena fasa ini mempunya polarisasi spontan yang cukup besar dalam unit selnya. Pembentukan fasa kristal bergantung pada kondisi kristalisasinya dan terjadi transformasi fasa bolak-balik diantara bentuk-bentuk fasa tersebut.

Gambar Struktur Kristal PVDF I: fasa β, II: fasa α, III: fasa γ

Gambar I, II, dan III menunjukkan struktur kristal dan susunan molekul PVDF. Bentuk I (fasa β) mempunyai rantai molekul yang tersusun sepanjang sumbu b dari tipe planar-zigzag. Tipe ini memiliki sedikit defleksi akibat interaksi sterik antara atom-atom fluor yang tidak terikat dalam monomer-monomer yang terdekat. Bentuk kristalnya ortorombik. Densitas kristalnya 1,973 gram/cc dengan titik leleh berkisar dari 191-212˚C. bentuk II (fasa α) memiliki bentuk kristal monoklinik dengan sudut β = 90˚. Rantai molekul dari fasa α mempunyai hubungan simetri invers satu dengan lainnya, sehingga mengakibatkan momen dipol listrik dari seluruh kristal saling meniadakan. Densitas kristalnya adalah 1,925 gram/cc dengan titik leleh berkisar dari 170-190˚C. Bentuk III (fasa γ) mempunyai bentuk kristal monoklinik dengan tipe planar zigzag. Densitas kristalnya 1, 945 gam/cc dengan titik leleh 197˚C.

C. Proses Pembuatan
PVDF dapat disintesis dari gas monomer vinylidene fluoride melalui suatu radikal bebas proses polimerisasi, yang dilanjutkan dengan proses melt casting.
Film PVDF dibuat dengan menggunakan penekan panas pada 180˚C dan 225˚C. waktu pengepresan 15 menit. Penarikan film dilakukan dengan alat tensile tester. Temperatur penarikan 80˚C dan draw ratio sekitar 5 kali panjang semula. Annealing dilakukan pada 140˚C. penyearahan momen dipol listrik dilakukan dengan memanaskan film pada minyak silikon pada 120˚C. Selanjutnya medan listrik dc (1,5 kV) dinyalakan, 5 menit kemudian temperaturnya diturunkan sampai temperatur kamar, lalu medan listriknya dimatikan.


Rekayasa akustik: Enclosure

Bising adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu atau membahayakan kesehatan. Sumber utama dalam pengendalian bising lingkungan dapat diklasifikasikan dalam kelompok :
  • Bising dalam (interior),dimana berasal dari suara manusia, alat-alat rumah tangga, mesin-mesin di dalam gedung sehingga dinding pemisah,pintu dan jendela harus mampu melakukan peredaman yang cukup terhadap bising-bising dari dalam.
  • Bising luar (outdoor), berasal dari lalu lintas, transportasi dan aktifitas diluar gedung.
Pada dasarnya kebisingan dapat dikendalikan melalui beberapa cara yaitu terhadap :
  1. Sumbernya dengan cara :
  • Desain akustik, dengan mengurangi vibrasi, mengubah struktur dan lainnya.
  • Substitusi alat.
  • Mengubah proses.
  1. Perjalanannya dengan cara :
  • Jarak diperjauh.
  • Akustik ruangan.
  • Enclosure.
  1. Penerimanya dengan cara :
  • Alat pelindung telinga (earplug, earmuff dan helmet).
  • Enclosure (misalnya dalam control room).
  • Administrasi dengan rotasi dan mengubah jadwal kerja.

Enclosure
Enclosure adalah salah satu struktur yang dapat membungkus satu sumber kebisingan. Enclosure bisa digunakan untuk satu set mesin atau sebagian dari mesin. Dalam aplikasinya, akustik enclosure menyediakan satu alat yang mampu mereduksi atau mengurangi kebisingan pada level yang dapat diterima. Jenis-jenis enclosure:
  • Enclosure lengkap (complete enclosure).
Dimana suatu kebisingan mesin dapat direduksi 20 dB atau lebih maka harus menggunakan complete enclosure karena mampu mengurangi NR (noise reduction) terbesar dari sistem lain. Di dalam mendesain enclosure lengkap, bising bersifat bergaung atau menggema di dalam enclosure harus tidak ada yang lewat atau keluar.
  • Enclosure sebagian (partial enclosure).
Pengendalian menggunakan enclosure sebagian biasanya terdapat satu bagian terbuka yang
sangat besar
  • Enclosure besar.
Untuk enclosure besar mempunyai ukuran luas cukup besar dan dimana bisa disesuaikan dengan ukuran besar dari mesin tersebut. Enclosure besar ada dua cara yaitu :
  • Enclosure di dalam ruang terbuka (Enclosure in open space).
Sebenarnya enclosure unuk mesin berada dalam ruang terbuka, karena noise reduction nilainya hampir sama dengan nilai transmission loss pada dinding enclosurenya.
  • Enclosure dalam ruang tertutup.
Biasanya peletakan enclosure berada di dalam ruang sehingga dipengaruhi oleh pantulan dari bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi
  • Enclosure kecil (close fitting enclosure).
Untuk enclosure kecil mempunyai ukuran luas material cukup kecil dan dimana biasanya operator tidak memerlukan akses ke dalam pembungkus.

Rekayasa akustik: Barrier

Kebisingan merupakan bunyi-bunyian yang tidak diperlukan dan sifatnya mengganggu. Definisi ini menghasilkan dua aspek bising yaitu aspek fisik yang ditunjukkan dengan bunyi, dan juga aspek subjektif seperti asal bunyi dan keadaan pikiran dan temperamen penerima.
Bising yang cukup keras, di atas sekitar 70 dB, dapat menyebabkan kegelisahan (nervousness), kurang enak badan, kejenuhan mendengar, sakit lambung dan masalah peredaran darah. Bising yang sangat keras, di atas 85 dB, dapat menyebabkan kemunduran yang serius pada kondisi kesehatan seseorang pada umumnya, dan bila berlangsung lama kehilangan pendengaran sementara atau permanen dapat terjadi. Bising yang berlebihan dan berkepanjangan terlihat dalam masalah-masalah kelainan seperti penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi.
1. Pengendalian bising yang dihasilkan pada sumber.
Pengendalian kebisingan pada sumbernya dapat dilakukan dengan memodifikasi mesin atau menempatkan peredam pada sumber getaran.
2. Pengendalian bising yang ditransmisikan
Pengendalian bising yang ditransmisikan melalui udara atau material lain minimal dapat dilakukan dengan dua cara yaitu insulasi dan absorbsi. Insulasi digunakan untuk menempatkan penghalang (barrier) antara bunyi dan suatu area atau orang yang dilindungi dari bising. Absorbsi digunakan untuk melindungi orang atau objek yang ditempatkan pada tempat yang sama dengan sumber bunyi.
3. Pengendalian bising pada penerima
Ketika pengontrolan bunyi di lingkungan gagal dilakukan, dapat diusahakan perlindungan terhadap manusia dengan pemakaian tutup telinga (earmuff), sumbat telinga (earplug), dan perlengkapan pelindung sejenis.

Pagar (barrier) adalah elemen luar bangunan yang sering dijumpai di Indonesia. Pagar dapat dimanfaatkan sekaligus sebagai peredam rambatan gelombang bunyi. Beberapa pertimbangan agar pagar juga dapat berperan sebagai peredam secara maksimal diuraikan sebagai berikut:
1. Faktor Posisi
Meski bunyi yang merambat dari sebuah sumber bunyi tersebar secara merata ke segala arah, namun bunyi yang diterima bangunan umulnya diperoleh dari perambatan bunyi secara mendatar atau pada sudut kemiringan tajam. Perambatan gelombang bunyi secara horizontal atau dalam sudut tajam dapat ditahan dengan elemen bangunan berposisi tegak (vertikal). Oleh karena itu elemen bangunan yang berupa elemen vertikal akan lebih berhasil mengatasi perambatan ini dibanding elemen horizontal, seperti yang terlihat pada gambar.



2. Faktor Perletakan
Elemen vertikal bangunan berupa pagar yang digunakan untuk menahan perambatan gelombang bunyi idealnya diletakkan sedemikian rupa agar menghasilkan peredaman terbaik. Secara garis besar terdapat tiga kemungkinan perletakan elemen vertikal, dengan asumsi bahwa letak sumber bunyi terpusat di tengah badan jalan. Ketiga perletakan tersebut dapat dilihat pada gambar.



a. Cenderung lebih mendekati sumber bunyi
Pada keadaan ini, elemen penghalang bangunan (seperti pagar) diletakkan dengan jarak tertentu dan berdiri sendiri (terpisah dari bangunan). Contohnya adalah pagar. Pada bangunan dengan luas lahan yang mencukupi, sangat dimungkinkan pagar diletakkan cukup jauh dari dinding muka bangunan. Dengan perletakan semacam ini maka gelombang
bunyi yang menyentuh ujung atas pagar, sebagian akan dibelokkan ke atas dan sebagian ke arah bawah. Oleh karena dinding muka bangunan berada pada jarak yang cukup jauh, maka pembelokan perambatan gelombang bunyi itu dimungkinkan untuk tidak langsung menuju ke bangunan, meskipun sebagian dari gelombang bunyi ini juga dimungkinkan untuk tetap merambat menuju dinding muka bangunan (Gambar bagian atas (a)).
b. Cenderung lebih mendekati bangunan
Pada keadaan ini elemen vertical diletakkan pada jarak cukup dekat dengan dinding muka bangunan. Hal ini terjadi pada bangunan dengan luas lahan kurang, hanya menyisakan lahan terbuka bagian depan yang jaraknya lebih pendek dari lebar setengah badan jalan. Gelombang bunyi yang mengenai permukaan pagar sebagian membelok ke atas dan sebagian besar sisanya langsung menuju dinding muka bangunan sehingga apabila pada
dinding muka bangunan dipasang jendela atau lubang ventilasi lainnya maka gelombang bunyi akan langsung masuk ke dalam bangunan. Keadaan ini kurang menguntungkan dibandingkan bila pagar cenderung lebih dekat ke sumber bunyi, karena lebih banyak bagian dari gelombang bunyi yang terbelokkan menuju bangunan. Hal ini dapat diperbaiki
dengan membuat pagar yang lebih tinggi, melebihi tinggi atap bangunan, agar pembelokan gelombang bunyi tidak menuju dinding muka bangunan (Gambar bagian bawah (c)).
c. Apabila perletakan (a) tidak dapat dicapai karena keterbatasan lahan, perletakan (c) dengan ketinggian pagar jauh melebihi bangunan lebih disarankan. Perletakan pagar yang lebih dekat dengan bangunan (c) lebih baik dibandingkan perletakan pagar di tengah-tengah antara garis tengah jalan dinding muka bangunan (posisi b). Pada keadaan ini pembelokan gelombang bunyi sebagian besar justru langsung menuju dinding muka bangunan, sekalipun pagar ditinggikan (Gambar bagian tengah (b)).
3. Faktor Berat dan Kerapatan Material
Menurut teori perambatan gelombang bunyi, material alam atau material bangunan yang memiliki berat tertentu lebih baik dalam meredam bunyi. Berat yang dimiliki tiap material mendukung material tersebut untuk bertahan pada posisinya untuk tidak mudah mengalami resonansi sehingga tidak meneruskan perambatan gelombang bunyi ke balik pembatas. Semakin berat dan tebal material atau lapisan material yang digunakan, semakin baik kemampuan redamnya, tidak saja karena menekan terjadinya resonansi, namun juga karena lebih mampu menyerap gelombang bunyi yang masuk melalui pori-porinya, dibandingkan material yang tipis dan ringan.

Minggu, 05 Agustus 2012

Puisi ::Solitude::


Aku ingin menyanyikan sepi
di tepi deburan ombak yang kehilangan kabar dari sahabatnya
Terdampar di suatu utopia
yang dikira berleha-leha atau berpura-pura mati

Aku ingin melagukan galau hati, gundah gulana
di tepi jurang menggema setengah gila
Yang mengira dirinya ada di keramaian
seolah banyak kawan yang datang bersahut-sahutan

Aku ingin mencorat-coret kata ‘diriku’ dalam setiap sajak yang ada
Tapi aku tak ingin tersisih dari lautan
dan tak ingin menjadi seonggok jiwa
yang menentang angin di ketinggian


Waru, 19 Mei 2012



Playing w/ my Samsung SGH-E590: Buildings























Rekayasa Instrumentasi: Teknik Trouble Shooting


Trouble shooting adalah suatu tindakan untuk mengetahui penyebab/menemukan penyebab/menemukan penyebab ketidakberfungsian/permasalahan pada suatu sistem. Secara garis besar teknik trouble shooting dapat diklasifikasikan menjadi:
* Trouble Shooting yang Bersifat Mikro
Yaitu trouble shooting penyebab ketidakberfungsian sebuah instrumen. Trouble shootingnya dilakukan melalui pengecekan keberfungsian komponen-komponen penyusun instrumen tersebut. Langkah trouble shooting pada suatu instrumen adalah:
1). Lakukan identifikasi komponen penyusun instrumen, misal:
a. Instrumen sebagai alat ukur


b. Instrumen sebagai “final control element” (misal: control valve)


 

c. Instrumen sebagai kontroler (misal: PLC)



2). Lakukan pengujian pada masing-masing komponennya dengan cara memberikan sinyal input dan mengamati sinyal outputnya.
3). Jika ada salah satu komponen yang tidak berfungsi, maka komponen tersebut menjadi salah satu penyebab ketidakberfungsian instrumen.

* Trouble Shooting yang Bersifat Makro
Yaitu trouble shooting penyebab ketidakberfungsian komponen-komponen yang ada pada suatu sistem (misal: sistem pengendalian plant). Trouble shootingnya dilakukan melalui pengecekan hubungan input dan output suatu komponen serta pengecekan jaringan penghubung antar komponen.
A. Trouble shooting pada sistem pengendalian sebuah plant



Langkah trouble shooting pada sistem pengendalian sebuah plant adalah:
1). Lakukan pengecekan keberfungsian field instrument dengan cara memberikan sinyal input besaran fisis dan mengamati sinyal outputnya.
2). Jika tidak ada masalah, lanjutkan dengan menguji jaringan komunikasi datanya.
3). Jika tidak ada masalah, lanjutkan dengan mengecek “junction box”nya.
4). Jika tidak ada masalah, lanjtkan dengan mengecek “control panel”.

B. Trouble shooting pada sistem sebuah proses plant
Langkah trouble shooting pada sistem sebuah proses plant adalah:
1). Buat diagram blok proses dari “raw material” sampai “product” dengan mempergunakan referensi “Process Flow Diagram”(PFD).
2). Lakukan analisa kerja setiap equipment penyusun sistem sebuah proses dengan mempergunakan “Mass & Heat Balance”.
3). Telusuri satu per satu kinerja dari setiap equipment sesuai dengan diagram blok.




Rekayasa Energi: Review Perbedaan Jenis dan Sifat Aliran Fluida

1. Laminar dan Turbulen
Orang yang pertama kali membedakan aliran laminar dan turbulen adalah Osborne Reynolds yang membuat bilangan Reynolds, Re = ρVD/μ. Aliran tersebut merupakan aliran dalam pipa.
a. Laminar
Aliran laminar terjadi apabila partikel-partikel fluida bergerak teratur dengan membentuk garis lintasan kontinyu dan tidak saling berpotongan. Aliran laminar mempunyai kecepatan alir yang rendah dengan kekentalan yang besar. Aliran laminar mempunyai bilangan Reynolds < 2100. Untuk aliran laminar dalam pipa, hanya terdapat satu komponen kecepatan yaitu


b. Turbulen
Aliran turbulen terjadi apabila partikel-partikel fluida bergerak tidak teratur dan garis lintasannya saling berpotongan. Aliran turbulen mempunyai kecepatan alir yang besar dengan kekentalan yang rendah. Aliran turbulen mempunyai bilangan Reynolds > 4000. Untuk aliran turbulen dalam pipa, komponen kecepatannya merupakan komponen acak yaitu 


2. Newtonian dan non-Newtonian
a. Newtonian
Fluida Newtonian adalah fluida yang tegangan gesernya linier terhadap laju regangan geser atau laju deformasi angular. Tegangan geser ini merupakan interaksi antara fluida dengan batas padat yang diberi gaya pada suatu luasan efektif. Sedangkan regangan geser adalah perpindahan sudut antara titik-titik awal fluida saat luasan efektif diam dengan titik-titik fluida setelah luasan efektif diberi suatu gaya dengan kecepatan tertentu.
Pada fluida Newtonian, viskositasnya tetap dan tidak akan berubah meskipun terdapat gaya yang bekerja. Contoh fluida Newtonian adalah air.

b. non-Newtonian
Fluida non-Newtonian adalah fluida yang tegangan gesernya tidak linier terhadap laju regangan geser. Pada fluida non-Newtonian, viskositasnya berubah bila terdapat gaya yang bekerja. Perubahan ini dapat berupa viskositas yang mengecil, contohnya cat lateks yang digoreskan pada dinding, dan juga viskositas yang membesar, contohnya pada adonan, misalnya campuran air dan tepung.

3. Compressible dan incompressible
a. Compressible
Fluida yang compressible adalah fluida yang kerapatannya dapat berubah karena perubahan tekanan dan temperatur. Contoh fluida compressible adalah gas nitrogen dan oksigen.

b. Incompressible
Fluida yang incompressible adalah fluida yang kerapatannya konstan terhadap perubahan tekanan. Contoh fluida incompressible adalah air.

4. Inviscid dan Viscous
a. Inviscid
Fluida inviscid adalah fluida yang tidak viscous. Viskositas muncul karena adanya tegangan geser atau gesekan fluida. Fluida seperti udara mempunyai viskositas kecil sehingga dapat diabaikan. Tegangan normal pada fluida inviscid tidak tergantung pada arah. Aliran inviscid digunakan dalam mengembangkan persamaan Bernoulli.
Persamaan Bernoulli:
    
Persamaan Bernoulli untuk aliran inviscid:

b. Viscous
Fluida memiliki sifat viscous (viskositas), dimana fluida selalu melekat pada batas padat fluida. Meskipun fluida ini bergerak, fluida akan selalu melekat pada batas padat yang melingkupinya. Fluida yang bergerak dapat menimbulkan tegangan geser. Tegangan geser (τ) ini merupakan interaksi antara fluida dengan batas padat yang diberi gaya (P) pada suatu luasan efektif (A). Interaksi yang terjadi berupa pertemuan permukaan antara benda padat dan fluida yang kemudian terjadi kesetimbangan, dimana tegangan geser yang muncul pada suatu luasan efektif besarnya akan sebanding dengan gaya yang bekerja pada batas padat. Ini dapat dituliskan pada persamaan:

                                                          P = τ.A

Pada eksperimen dengan suatu fluida yang ditempatkan diantara dua pelat sejajar yang lebar dimana pelat atas dapat digerakkan, sedangkan yang lainnya diam, terlihat bahwa tegangan geser yang terjadi akan menimbulkan regangan geser. Ketika pelat atas digerakkan, akan trerjadi perpindahan sudut (δβ) antara titik-titik awal fluida saat pelat atas diam dengan titik-titik fluida setelah pelat atas digerakkan dengan gaya P sejauh δa dengan kecepatan U tertentu. Perbedaan sudut inilah yang disebut regangan geser. Kemudian dengan memperhitungkan variabel yang ada, seperti gaya yang bekerja, tegangan geser, regangan geser, gradien kecepatan pelat, dan jarak pergerakkan pelat, ditemukan suatu hubungan dalam persamaan:

                              
Nilai viskositas tergantung pada jenis fluida dan temperatur fluida, dimana semakin besar temperatur viskositasnya akan semakin kecil.

5. Steady dan Unsteady
a. Steady
Steady berarti tunak (tetap/konstan). Aliran fluida yang tunak adalah aliran dimana pada sebuah garis arus tertentuvariabel dari aliran seperti kecepatan, tekanan, kerapatan, dan debit fluida tersebut hanya dalam fungsi s, yaitu lokasi (posisi partikel) diswepanjang garis arus tersebut (V = V(s), P = P(s), ρ = ρ(s), Q = Q(s)). Hal ini dapat diartikan bahwa dapat terjadi perubahan pada variabel tersebut pada suatu tempat tertentu, tetapi akan konstan terhadap waktu. Hal ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

                                    
Aplikasi dari aliran tunak ini ada pada persamaan Bernoulli, dimana asumsi-asumsi yang digunakan pada persamaan tersebut bahwa kecepatan alirannya konstan terhadap waktu.
                                      
 
b. Unsteady
Usteady berarti tak tunak. Aliran fluida yang tak tunak adalah aliran dimana pada sebuah garis arus tertentu variabel aliran, seperti kecepatan, tekanan, kerapatan, dan debit fluida, tidak hanya dalam fungsi s melainkan juga dalam fungsi waktu (V = V(s, t), P = P(s, t), ρ = ρ(s, t), Q = Q(s, t)). Hal ini dapat diartikan bahwa dapat terjadi perubahan variabel tersebut pada suatu tempat tertentu dan juga berubah dengan waktu. Sehingga untuk mendapatkan percepatan aliran digunakan persamaan:

                                    
Ketidak-tunakan iniyang menjadi kelemahan dari persamaan awal Bernoulli. Namun kemudian dapat dimodifikasi dengan menyisipkan efek ketidak-tunakan, sehingga persamaan menjadi:

            
6. Onephase dan Multiphase
a. Onephase
Aliran fluida onephase adalah aliran fluida yang dalam satu alirannya hanya berupa satu wujud zat. Misalnya dalam suatu sistem perpipaan PDAM, fluida yang dialirkan adalah air dalam bentuk cair mulai dari kolam penampung hingga mulut keran konsumennya.

b. Multiphase
Aliran fluida multiphase adalah aliran fluida yang dalam satu alirannya dapat terdiri dari dua atau lebih wujud zat yang perubahannya terjadi secara simultan. Misalnya dalam kolom destilasi, fluida yang mengalir mula-nula berupa uap yang kemudian setelah didestilasi berubah menjadi cairan. Contoh lain adalah pada sistem boiler dan kondensor dimana wujud fluida yang mengalir berupa steam-cair.

7. Internal flow dan External flow
a. Internal flow
Aliran dalam adalah aliran yang mengalir melalui saluran tertutup. Contohnya lairan dalam pipa dan sambungan. Pada daliran dalam, gaya yang berperan adalah gaya inersia dan viskositas. Analisis aliran ini memperhitungkan geometri sistem yng berupa dimensi panjang. Selain itu, analisis aliran ini juga memperhitungkan tingkat kekasaran permukaan dalam yang bersentuhan dengan sistem aliran.

b. External flow
Aliran luar berarti aliran yang melewati benda-benda yang terendam dalam fluida. Contohnya aliran air disekitar kapal selam dan aliran udara disekitar bola golf yang tengah melambung di udara. Analisis aliran ini memperhitungkan geometri benda, yaitu benda dua dimensi, simetri sumbu, dan tiga dimensi. Selain itu, analisis aliran ini juga mempertimbangkan karakteristik benda, apakah benda tersubut dibuat mulus seperti arur (seperti mobil balap) atau tumpul (seperti parasut).

8. Rotational dan Irrotational
a. Rotational
Aliran rotasional terjadi apabila setiap partikel fluida mempunyai kecepatan sudut terhadap pusat massanya. Hal ini dapat diartikan bahwa aliran rotasional (partikel fluida yang berotasi) terjadi apabila distribusi kecepatan tidak merata.

b. Irrotational
Aliran tak rotasional terjadi apabila distribusi kecepatan di tiap dinding batas merata sehingga patikel fluida tersebut tidak berotasi terhadap pusat massanya.